Solusi mengendalikan konflik berarti menjaga tingkat konflik yang kondusif bagi perkembangan organisasi sehingga dapat berfungsi untuk menjamin efektivitas dan dinamika organisasi yang optimal. Namun bila konflik telah terlalu besar dan disfungsional, maka perlu diturunkan intensitasnya, antara lain dengan cara :
1. Mempertegas atau menciptakan tujuan bersama. Perlunya dikembangkan tujuan kolektif di antara dua atau lebih unit kerja yang dirasakan bersama dan tidak bisa dicapai suatu unit kerja saja. Maksudnya kita harus pokokkan keputusan masalah tersebut dengan cara berunding atau bermusyaawarah bersama-sama.
2. Meminimalkan kondisi ketidak-tergantungan. Menghindari terjadinya eksklusivisme diantara unit-unit kerja melalui kerjasama yang sinergis serta membentuk koordinator dari dua atau lebih unit kerja.
3. Memperbesar sumber-sumber organisasi seperti : maksudnya menambah fasilitas kerja, tenaga serta anggaran sehingga mencukupi kebutuhan semua unit kerja agar tidak terjadi organisasi itu lama dalam menyelesaikan suatu kerjaan.
4. Membentuk forum bersama untuk mendiskusikan dan menyelesaikan masalah bersama. Pihak-pihak yang berselisih membahas sebab-sebab konflik dan memecahkan permasalanhannya atas dasar kepentingan yang sama.
5. Membentuk sistem banding, dimana konflik diselesaikan melalui saluran banding yang akan mendengarkan dan membuat keputusan.
6. Pelembagaan kewenangan formal, sehingga wewenang yang dimiliki oleh atasan atas pihak-pihak yang berkonflik dapat mengambil keputusan untuk menyelesaikan perselisihan.
7. Meningkatkan intensitas interaksi antar unit-unit kerja, dengan demikian diharapkan makin sering pihak-pihak berkomunikasi dan berinteraksi, makin besar pula kemungkinan untuk memahami kepentingan satu sama lain sehingga dapat mempermudah kerjasama.
8. Mengecek ulang kriteria evaluasi dengan cara mengembangkan ukuran-ukuran prestasi yang dianggap adil dan benar dalam menilai kemampuan, promosi dan balas jasa.
9. Pimpinan harus mampu bersikap komunikatif dalam arti pimpinan harus aktif meminta pendapat dari berbagai pihak melalui diskusi yang meperhatikan kepentingan semua pihak, termasuk pada bawahan tentunya.
10. Pimpinan harus mampu menstipulasi heterogenitas dalam arti membuat anggota dari unit-unit kerja untuk tidak sepenuhnya homogen dan mendorong adanya devil’s advocate pada setiap diskusi.
11. Pimpinan harus mampu mendisain kompetisi positif dalam arti menciptakan suasana kompetisi yang sehat diantara unit-unit kerja maupun pada bawahannya langsung ke arah peningkatan performance organisasi.

Dan konflik sendiri memiliki fase-fase yang terjadi yaitu :
1. Fase klasik
Dalam fase klasik di pandang bahwa konflik bisa muncul tapi bersifat sementara dan harus diselesaikan oleh pihak manajemen menurut pandangan pihak manajemen tersebut. Fase klasik juga meyakini bahwa apabila diberi waktu dan manajemen baik, konflik akan dapat dihilangkan secara sempurna.
2. Fase hubungan antar manusia
Fase hubungan antar manusia mengakui bahwa konflik itu ada tapi bisa dihindari dan perlu diatasi. Konflik berhubungan dengan para pengacau, para primadona dan sebagainya. Fase ini menyatakan bahwa konflik itu buruk, dan damai itu baik.
3. Fase Kontemporer
Pandangan komtemporer menyatakan bahwa konflik adalah hal tidak dapat dihindari dari kehidupan organisasi. Konflik bukanlah hal yang baik tapi juga bukan hal yang buruk. Konflik merupakan kenyataan hidup yang harus dipahami bukan ditentang.