Tulisan ini saya tujukan untuk para mahasiswa yang berprestasi dan berpotensi. Semoga mereka tidak terpengaruh oleh mahasiswa yang teriak-teriak nggak jelas. Dan kalau mereka mau bakar ban jangan di jalan, karena akan merusak jalan dan mengganggu rakyat yang mau cari makan, atau juga sok berlahak seperti preman jalanan.
Kita semua tidak ingin masyarakat itu terganggu ketentramannya oleh ancaman kerusuhan yang biasa terjadi setiap saat. Tetapi memang itu juga tidak berarti harus berpendapat kritis dan heroik mahasiswa. Meski pun keduanya dikaitkan, tetapi keduanya tidak mesti berjalan bersama.
Saya setuju dengan pendapat masalah harus didekati lebih komprehensif dan teliti, dengan melihat penyebabnya secara makro pada misalnya politik nasional, misalnya saja kejadian implementasi penciptaan suasana akademik di universitas hasanudin Makassar. Tetapi semua pihak hendaknya memulai upaya ini dari apa yang bisa dilakukannya. Cara ini perlu sungguh-sungguh dilakukan, agar tidak berhenti sekedar saling menyalahkan. Jadi politisi berhentilah tawuran (bukan berhenti kritis ya) agar tidak jadi tiruan yuniormu di kampus. Manajemen kampus tatalah sistem perkuliahan, tumbuhkan budaya akademik yang baik, dan perlihatkan pribadi yang bisa diteladani. Tetapi mahasiswa juga harus mencari cara-cara yang lebih elegan dan efektif dalam memperjuangkan idealismenya. Tidak adil terus-terusan meminta masyarakat memaklumi demo rusuh, dengan berargumentasi perjuangan memang harus ada korbannya. Pejuang sejati adalah yang bisa mempraktekkan pengorbanan diri yang sebesar-besarnya, dengan sekecil-kecilnya mengorbankan orang lain, apalagi masyarakat kecil yang kesejahteraannya sesungguhnya menjadi muara kebajikan sosial. Pejuang cerdas adalah yang bisa mencapai tujuan perjuangannya dengan tidak mengorbankan prinsip sebelumnya.
Jika itu diwujudkan, orang Bugis Makassar baru disebut menegakkan siri (menegakkan harga diri), dan bukannya appakasiri-siri/mappakasiri-siri (malu-maluin).
Oya, agar tidak terjadi kesalahfahaman yang semakin parah, saya sedikit mau menjelaskan tentang nama Makassar kepada kawan2 kompasioner yang mengomentarinya, meskipun dilakukan dgn sedikit guyon. Mengembalikan nama Makassar ke Ujungpandang? Jgn bikin kerjaan barulah, terlalu banyak energi dan biayanya, selain asumsinya yang tidak tepat. Sebelum menjadi Ujungpandang, kota ini sudah bernama Makassar. Jadi penamaan Makassar itulah yang sesungguhnya berarti pengembalian namanya yang sebenarnya. Mengapa dikembalikan ke Makassar, salah satu alasannya karena nama ini justru sebelumnya yang dikenal luas. Bahkan sejak berabad-abad lalu, nama Makassar sudah dikenal sampai ke Afrika dan Eropa melalui jalur perdagangan dan sifat mobil penduduk daerah ini.
Cerita tentang Makassar tentu bisa sangat panjang, tetapi catatan sejarah tentang ini cukup banyak tersedia. Yang jelas, terlalu naif menghubungkannya dengan memanasnya demo mahasiswa, karena fluktuasi demo anarkis tidak paralel dengan urusan penggantian nama ini.